Anak ADHD Bukan Aib! Pahami Kebutuhan dan Solusi yang Bisa Dilakukan
Anak ADHD tidak seharusnya menjadi aib. Meski memiliki keterbatasan di sana-sini, mereka juga berpotensi untuk meraih kesuksesan.
Sekilas dilihat, anak ADHD hanyalah versi lebih hiperaktif dari anak-anak normal. Guru mereka yang baru mengajar pun mungkin malah akan terkesan dengan pembawaan anak tersebut yang ramai. Namun seiring berjalannya waktu, satu demi satu masalah akan mulai bermunculan.
Anak tersebut mungkin dinilai terlalu berisik bahkan ketika pelajaran sedang berlangsung. Ia sering merusak benda-benda di kelas hingga ribut dengan kawannya. Persoalan-persoalan tersebut adalah fenomena umum di antara para pengidap Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau biasa disingkat ADHD.
Pizzorno, Murray, dan Joiner-Bey dalam bukunya ‘The Clinician's Handbook of Natural Medicine’ pun mengungkapkan bahwa penderita ADHD sering mengalami kesulitan di sekolah. Mereka biasanya mengalami masalah behavioral (perilaku) dan kesulitan selama proses pembelajaran.
Peneliti Ronna Fried dan kawan-kawannya mengonfirmasi hal tersebut. Mereka menemukan bahwa anak dengan ADHD lebih sering tinggal kelas dibanding rekannya yang normal.
Sedih? Kenyataannya memang pahit bagi para penderita gangguan kepribadian ini. Pun begitu bila Anda adalah sosok orangtua dengan buah hati yang mengalami persoalan tersebut.
Namun kesedihan tak akan pernah menyelesaikan masalah. Sebagai orangtua, Anda perlu memandu anak mengatasi kesulitan yang dialaminya agar ia bisa mendapatkan yang terbaik.
Menghadapi Anak ADHD, Menentukan Tindakan Paling Tepat
Selama beberapa tahun terakhir, studi mengenai Attention Deficit Hyperactivity Disorder telah mengalami peningkatan signifikan. Utamanya di negara-negara maju, kesadaran masyarakat akan gangguan kepribadian ini pun juga sudah tinggi.
Sayangnya, kondisi di negara berkembang seperti Indonesia memang masih cukup tertinggal. Oleh sebab itulah sebagai orangtua dengan anak penderita ADHD, kita harus proaktif menentukan tindakan yang paling tepat. Misalnya dengan mengikuti 5 penjelasan di bawah ini.
1. Jangan Percaya pada Mitos Keliru tentang ADHD
Ada banyak mitos keliru seputar penderita ADHD. Misalnya mitos bahwa ADHD hanyalah anak yang terlalu dimanja orangtuanya sehingga mereka jadi malas dan berisik.
Padahal, kenyataannya tidaklah demikian. Gehricke, seorang peneliti yang menerbitkan temuannya pada jurnal NCBI mengatakan bahwa terdapat perbedaan anatomi otak antara mereka yang normal dengan penderita ADHD. Perbedaan itulah yang membuat penderita gangguan kepribadian tersebut memiliki pola perilaku yang berbeda.
2. Penanganan Ahli untuk Anak ADHD
Sebagai orangtua, Anda harus memahami bahwa ADHD perlu penanganan medis yang tepat. Coba, bayangkanlah bila Anda menjadi anak Anda sendiri. Anda sering gagal dalam pembelajaran dan dianggap nakal oleh para guru. Dunia seolah tak memahami bahwa Anda memiliki kondisi medis yang serius.
Bila masalah Anda tak segera ditangani oleh ahlinya, kondisi Anda akan semakin parah. Anda jadi semakin merasa minder, pesimis, dan cenderung membenci dunia. Tak enak, bukan?
Oleh sebab itulah, Anda perlu proaktif membantu anak yang mengalami masalah ini dengan membawanya ke para ahli. Silahkan konsultasi ke psikiater yang direkomendasikan untuk penanganan anak lebih lanjut.
Di Indonesia, gangguan ADHD telah di-cover oleh BPJS kesehatan. Anda bisa ke puskesmas untuk kemudian meminta rujukan di rumah sakit-rumah sakit dengan fasilitas dan dokter spesialis yang lebih lengkap.
3. Asupan Gizi untuk Anak ADHD
Meskipun kasus ADHD acap kali terkait dengan kelainan genetik, namun sedikit banyak, asupan gizi yang baik bisa menurunkan gejala ADHD, lho. Beberapa jenis makanan yang direkomendasikan untuk penyintas ADHD ialah:
- Makanan dengan kandungan Omega 3 seperti ikan laut
- Makanan kaya protein seperti telur, tempe, hingga ayam
- Aneka buah-buahan segar dan sayuran
Di sisi lain, kurangilah makanan yang membuat otak menjadi “malas” atau malah hiperaktif. Misalnya saja makanan dengan kadar gula dan kolesterol yang tinggi.
4. Support Tak Terbatas
Siapa lagi yang bisa diharapkan memberikan support pada anak bila bukan Anda selaku orangtuanya? Berikanlah dukungan pada anak dengan melakukan tindakan-tindakan nyata seperti:
- Menjelaskan pada anak mengenai apa itu Attention Deficit Hyperactivity Disorder dengan bahasa yang mudah dipahami
- Menjelaskan pada anak bahwa ia tidak lebih buruk dari kawan yang lain
- Mendorong anak mengatasi hiperaktivitasnya dengan sabar
- Membantu anak belajar fokus dengan membuat target harian
- Mengapresiasi pencapaian anak meski hanya hal kecil sekalipun
5. Edukasi ke Masyarakat
Terakhir namun tak kalah penting, pahamilah bahwa tugas Anda sebagai orangtua dengan anak penderita ADHD memang tidak mudah. Sebab Anda tinggal di tengah masyarakat di mana kesadaran akan gangguan kepribadian ini masih begitu kurang.
Anak Anda mungkin nyaman berada di sisi Anda. Namun tidak demikian di lingkungannya. Oleh sebab itu, jangan segan memberikan edukasi ke orang-orang di sekitar.
Misalnya saja dengan menceritakan diagnosa anak Anda ke gurunya. Beritahukan pada sang guru mengenai kondisi anak ADHD dan persoalan-persoalan yang umum dihadapi.
Semakin banyak yang tahu, lingkungan anak akan semakin ramah pada ADHD. Dus, anak bisa berkembang dengan nyaman tanpa tuduhan-tuduhan tak berdasar akibat masyarakat yang tidak memahami masalah tersebut.
SS 1Text Unique
Yoast Hijau, siap upload




Post a Comment for "Anak ADHD Bukan Aib! Pahami Kebutuhan dan Solusi yang Bisa Dilakukan"